Wednesday, 2 November 2016

Kenalan sama Isbanban

Isbanban adalah sebuah organisasi sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Sesuai dengan singkatan nya, Istana Belajar Anak Banten, Isbanban datang dari Banten dan memiliki 7 Chapter. Tangsel merupakan chapter bungsu. Jadi, kakak-kakak, maklumin yah kalo volunteer Tangsel sering rewel dan terkesan manja.. tapi percaya deh, didepan adik-adik desa binaan, kami tegas, mandiri,dan bijaksana, kok! Kecuali kalo kami diajakin jajan cilor, cimin atau cuangki sama adik-adik.. pencitraan nya luntur semua. Heee.

Saya sendiri sebenarnya nggak pernah tahu kalau di daerah saya ada kegiatan sosial seperti ini. Selama ini saya selalu submit CV untuk ikut organisasi di daerah Jakarta, dan bukan bergerak di bidang pendidikan. Nggak ada niatan juga untuk mencari tahu organisasi di sekitar tempat tinggal saya. Selain saya anak nya moody, saya memang nggak bisa ngajar anak kecil. Saya suka anak kecil, tapi untuk berbagi ilmu dengan telaten kepada anak kecil, belum bisa.

Pada suatu malam sebelum hari minggu, saya bersama beberapa teman, sedang kumpul untuk sekedar melepas kangen. Malam itu, pikiran dan perasaan saya memang sedang dibalut rasa gelisah yang luar biasa. Maklum, abege, suka galau-in yang ga jelas. Sampai akhirnya tercetus dari mulut Dita dan Hanafi, "Udah, daripada galauin Si*it, mending ikutan Isbanban aja, jadi ada kegiatan, ketemu banyak orang.." dan saya pun tanpa berpikir apapun menjawab.. "Yaudah deh, apapun lah..". Seminggu kemudian, saya bergabung. Ternyata, memang semua volunteer nya baru karena chapter Tangsel baru dibuka.

Beberapa pekan pertama pengajaran, saya shock bukan main. Saya nggak tahu kalo saya harus ngajarin adik-adik kecil. Saya nggak tahu materi apa saja yang harus diajarkan. Ada adik kecil yang menayakan PR Matematika ke saya, saya mual seketika. "I hate numeric so much, dek. Do you know? Aku pun ngga tau apa yang harus aku bagi ke kamu adik-adik!!" rasanya saya ingin menjerit seperti itu. Tapi sepertinya Dita paham dengan apa yang saya rasakan. Perlahan Dita mendampingi dan memberi tahu apa saja yang harus saya lakukan selama disana.

Setengah tahun pertama, saya selalu mengeluh ke Dita dan Panji (founder of Isbanban) "Gue sampah nih asli. Nggak bisa kontribusi apa-apa. Gimana dong? Gue bakal di kick yah..?" Mereka pun meyakinkan gue, I'm doing right. Mungkin cuma nyengengin saya aja kali. Tapi usaha mereka berhasil membuat saya stay bersama Isbanban sampai detik ini. Mereka mulai tahu apa fungsi saya di Isbanban, dan mereka tahu juga bahwa sebenarnya saya aware sama sistem kurikulum Isbanban.

Sekarang, Isbanban chapter Tangsel sudah hampir memasuki umur satu tahun. Kadang nggak menyangka, sudah hampir satu tahun dan saya ada di dalam Isbanban. Pertemanan dengan volunteer dan pihak taman baca, jangan dipertanyakan.. an award for that 'Friends are the Family We Choose' goes to them. Walaupun saya dan teman-teman lain suka bercanda, ngomong "Persahabatan kami ini bisa dibilang biasa aja, nggak akan kayak keluarga, kami biasa banget aja" setiap ngumpul, kalimat ini nggak pernah bisa berlaku buat Isbanban, sekalipun just for a joke.

Saya bahagia bisa dipertemukan dengan Isbanban. Bersyukur juga, Si*it sempat bikin galau sampai segitunya. Memang, hal yang nggak menyenangkan belum tentu nggak baik untuk seseorang.






Sampai akhirnya saya tahu dan yakin.. Selalu ada perubahan baik dalam hidup seseorang karena Isbanban.

No comments:

Post a Comment