Monday, 13 February 2017

Ohana

Akhir pekan kemarin saya habiskan bersama teman-teman dari Serang, dirumah saya.  Menjelang kepulangan mereka, saya terlibat konversasi dengan salah satu sahabat baik saya. 

“Rumah lo nyaman banget tau.. Nyaman nya kenapa tau nggak? Karena orangtua lo dan mbak lo welcome banget sama temen-temen lo, sama kita.. Gue sih kalo jadi lo betah dirumah.. Tapi nggak di kamar terus.” - Catur W.

Mungkin baru beberapa hari saya bisa merasa nyaman untuk stay dirumah, dan nggak hanya di kamar. Sebelumnya, saya selalu dikamar, keluar hanya untuk ke toilet atau mengambil dan mengembalikan piring makan, atau bahkan keluar kamar karena memang ingin pergi. Dampaknya, komunikasi dengan orangtua saya sangat minimalis.

Hal ini terjadi semenjak saya memasuki usia 20. Lama-kelamaan, saya risih. Selalu beda pendapat sama ayah dan ibu. Saya selalu hanya mengatakan ‘tidak’ tanpa menjabarkan alasan. Saya nggak mau berdebat dan memang kurang suka. Semacam, ‘yaudahlah’ aja kalau beda pendapat atau ketika mendapat banyak tuntutan dan larangan dari orangtua saya. Akhirnya, banyak hal tentang saya yang sepertinya tidak terlalu diketahui oleh orangtua saya. Seperti dituntut untuk selalu berbohong demi kenyamanan dan ketenangan hati orangtua saya. Don’t get me wrong, saya secara sadar pun sangat tidak nyaman dengan keterpaksaan seperti itu.

Masalah ini membawa saya pada suatu konversasi dengan kakak saya, Erlan. Sekitar pukul 11 malam sampai dua pagi, kami membicarakan banyak hal tentang keluarga. Erlan mengubah sudut pandang saya, dan akhirnya jumat malam, saya memberanikan diri untuk membahas segala hal yang selama ini sangat mengganggu pikiran. And all the problem come to an end. Saya lega, se-lega-lega nya.

Kita memang tidak akan pernah bisa memilih oleh siapa kita dilahirkan, dan siapa saja yang menjadi darah daging kita. Tapi kita bisa memilih untuk bahagia dengan apa yang sudah digariskan oleh Allah S.W.T.  . That’s funny yet ironic ketika saya bisa bahagia diluar rumah dengan teman-teman saya, tapi saya nggak punya alasan untuk pulang, saya nggak bisa merasakan happiness ketika saya dirumah, berguna untuk orang lain tapi hal sebaliknya terjadi ketika saya berada dirumah untuk orangtua saya, keluarga saya.



So, please.. reunited with your family members as soon as possible. Stop getting offended. One day, your real and imaginary conflict will come to an end. and.. never sacrifice three things; your family, your heart, and your dignity. Because.. it’s not how big the house is, it’s how happy the home is.







cheers, 
Ica. R.

No comments:

Post a Comment