Akhir pekan kemarin saya habiskan bersama teman-teman dari
Serang, dirumah saya. Menjelang kepulangan
mereka, saya terlibat konversasi dengan salah satu sahabat baik saya.
“Rumah lo
nyaman banget tau.. Nyaman nya kenapa tau nggak? Karena orangtua lo dan mbak lo
welcome banget sama temen-temen lo, sama kita.. Gue sih kalo jadi lo betah
dirumah.. Tapi nggak di kamar terus.” - Catur W.
Mungkin baru beberapa hari saya bisa merasa nyaman untuk
stay dirumah, dan nggak hanya di kamar. Sebelumnya, saya selalu dikamar, keluar
hanya untuk ke toilet atau mengambil dan mengembalikan piring makan, atau
bahkan keluar kamar karena memang ingin pergi. Dampaknya, komunikasi dengan
orangtua saya sangat minimalis.
Hal ini terjadi semenjak saya memasuki usia 20. Lama-kelamaan,
saya risih. Selalu beda pendapat sama ayah dan ibu. Saya selalu hanya
mengatakan ‘tidak’ tanpa menjabarkan alasan. Saya nggak mau berdebat dan memang
kurang suka. Semacam, ‘yaudahlah’ aja kalau beda pendapat atau ketika mendapat
banyak tuntutan dan larangan dari orangtua saya. Akhirnya, banyak hal tentang
saya yang sepertinya tidak terlalu diketahui oleh orangtua saya. Seperti
dituntut untuk selalu berbohong demi kenyamanan dan ketenangan hati orangtua
saya. Don’t get me wrong, saya secara sadar pun sangat tidak nyaman dengan
keterpaksaan seperti itu.
Masalah ini membawa saya pada suatu konversasi dengan kakak
saya, Erlan. Sekitar pukul 11 malam sampai dua pagi, kami membicarakan banyak
hal tentang keluarga. Erlan mengubah sudut pandang saya, dan akhirnya jumat
malam, saya memberanikan diri untuk membahas segala hal yang selama ini sangat
mengganggu pikiran. And all the problem come to an end. Saya lega, se-lega-lega
nya.
Kita memang tidak akan pernah bisa memilih oleh siapa kita
dilahirkan, dan siapa saja yang menjadi darah daging kita. Tapi kita bisa
memilih untuk bahagia dengan apa yang sudah digariskan oleh Allah S.W.T. . That’s funny yet ironic ketika saya bisa
bahagia diluar rumah dengan teman-teman saya, tapi saya nggak punya alasan
untuk pulang, saya nggak bisa merasakan happiness ketika saya dirumah, berguna
untuk orang lain tapi hal sebaliknya terjadi ketika saya berada dirumah untuk orangtua saya, keluarga saya.
So, please.. reunited with your family members as soon as
possible. Stop getting offended. One day, your real and imaginary conflict will
come to an end. and.. never sacrifice three things; your family, your heart, and your
dignity. Because.. it’s not how big the house is, it’s how happy the home is.
cheers,
Ica. R.
No comments:
Post a Comment