Wednesday, 2 November 2016

PENTAS SENI ANAK DESA



Sebuah desa didekat tempat tinggal saya (Ciputat, Tangsel), telah ditetapkan oleh sebuah organisasi sosial yang bernama ISBANBAN, sebagai desa binaan.  Kami, volunteer ISBANBAN dan semua pihak yang terlibat, menyebut tempat tersebut, “Taman Baca Serambi”. Bekerjasama dengan Ebibag (Eco Business Indonesia), kami melakukan kegiatan sosial disana. ISBANBAN membina dan memberikan edukasi kepada adik-adik kecil, seperti membaca, menulis, berhitung, bersikap sopan santun kepada oranglain, dan mewujudkan apa yang mereka cita-citakan. Sementara partner ISBANBAN, Ebi Bag, memberikan edukasi mengenai pengolahan sampah menjadi barang yang berguna. Biasanya, edukasi ini diberikan kepada pemuda karang taruna dan orangtua warga desa binaan kami, yang kemudian oleh orangtua atau kakak-kakak karang taruna nya, ditularkan pula ke adik-adik kecilnya.


Hampir 12 bulan kami mengadakan kegiatan belajar mengajar di desa tersebut. Salah satu kegiatan wajib dari ISBANBAN adalah mengadakan pentas seni yang menampilkan kreasi seni adik-adik desa binaan seperti menari, membaca puisi, dan lain sebagainya. Chapter Tangsel sepakat untuk membuat drama musikal. Kami mempersiapkan segala hal dari satu bulan sebelumnya. Sejujurnya, saya pribadi khawatir akan waktu yang sangat minimalis tersebut. Tapi setelah eksekusi, ternyata pas! Hehe. Karena pemeran utama nya didominasi adik-adik berumur 5-12 tahun. Mood dan mental tampil adik-adik ini harus dibangun sedemikian rupa. Dari 4 kali latihan, latihan ke dua dan gladiresik adalah puncak rasa kesal, lelah, dan khawatir para volunteer. Banyak adik-adik yang tidak hadir latihan, susah untuk fokus, mengganggu teman lain yang lagi serius latihan, jajan cimin, cilor, esteh, dan sebagainya. Anak-anak lah yah…






Setiap ditanya oleh ketua pelaksana mengenai persiapan acara, saya selalu menjawab 85 persen. Sampai hari H. Akhirnya, terlibat suatu konversasi..


Dita: “Gimana, Ca.. acara udah berapa persen nih?”
Saya: “85, Dit”
Dita: “kenapa 85 mulu sih?”
Saya: “Kita nggak bisa prediksi anak-anak. Let god do the rest, Dit.”


Saya tahu, kekhawatiran yang kami rasakan sebagai volunteer pada saat-saat seperti itu adalah penampilan adik-adik nantinya. Kami tidak bisa menebak mood mereka. Bisa saja, ditengah panggung mereka nangis, atau sebelum naik panggung malah nangis dan akhirnya tidak jadi tampil. Point yang saya lupakan, saya menghadapi seorang adik kecil. Tidak bisa dipaksakan, dituntut, dan diberi sentuhan atau suara keras.



Tapi semua kekhawatiran itu musnah. Hilang tanpa jejak. Kami, para volunteer justru diberi banyak kejutan oleh adik-adik Taman Baca. Mereka yang biasanya saling usil saat latihan, justru saling support saat tampil diatas panggung. Nggak ada yang rewel sampai bikin pusing, semua berjalan dengan lancar hingga acara selesai. Rasa khawatir terhadap cuaca juga sempat menghantui perasaan masing-masing volunteer. Mengingat cuaca yang selama ini tidak menentu, kadang hujan setelah terik, atau seharian terik, bahkan seharian hujan, membuat kami harus memikirkan setting panggung sedemikian rupa agar memudahkan semua yang hadir untuk cepat mengamankan diri jika hujan ditengah-tengah acara. Namun, atas kuasa Allah S.W.T,  mr. Sun menampakkan diri sepanjang acara. Acara selesai, hujan turun sederas-derasnya. Alhamdulillah, rezeki untuk pentas seni kami selalu mengalir. Mungkin juga, berkat ibu ketua pelaksana yang cerita ke saya.. "Eh gue sampe sholat duha dulu tau tadi sebelum acara, gue deg-deg-an!" :).













Super Happy!



Sangat-sangat berterimakasih kepada:

·         Bang Iway sekeluarga yang rumah dan kamarnya selalu di berantakin. Kadang jadi tempat rapat, tempat bobok, bioskop dadakan, dan lain-lain. 

·         Pemuda Karang Taruna, bang Egar, bang Yakub, bang Caluy, bang Nung, bang Ade, bang Acuy (yang belum ketemu tapi namanya disebut mulu), dan semua yang merelakan waktu istirahatnya diganggu. Malem-malem nyamperin ke rumah bang Iway untuk ngecat ini itu sampai tangan, kaki, belepotan cat. Seru sih! Hahaha.

·         Volunteer Isbanban yang paling paling tersayang, terimakasih atas dedikasi kalian yang tinggi. I have no words to describe. Much love!

·         Ebibag!! Nadya, kak Edy, dan Dayan yang tiba-tiba ku rusuhin menjelang acara. Terimakasih!

·         Adik-adik kecil di taman baca Serambi yang selalu jajan cimin cilor dan esteh ditengah-tengah latihan… surprise kalian sangat-sangat luar biasa. :’)

·         Panji, Ihsan, teh Nia, teh Ega, yang jauh-jauh dateng dari Serang hanya untuk menjadi saksi kemeriahan pensi dan membawa sertifikat dari pusat.. terimakasih!

Last but not least, terimakasih kepada Allah S.W.T yang tanpa izin nya, acara ini pasti nggak sukses. Juga, kepada para orangtua yang memberikan restu, dan izin pulang larut atau menginap untuk kami, demi menyelesaikan yang harus diselesaikan. Terimakasih.. 

4 comments:

  1. Terima Kasih kembali. Karena suksesnya sebuah acara yang menentukan pribadi diri kita masing-masing. Tidak menutup kemungkinan tanpa ijin daripada sang pencipta. Allah S. W. T.. Barrak allah. Thk To So Much:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. pleasure do, Bang Nung.. Semoga kedepan nya, Isbanban dan Pekat sama-sama sukses.. Aamiiin yaRabb.. :)

      Delete
  2. Cuma bisa mengucapkan slalu semangat dan jangan bosan. Good luck.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih banyak bang Eman.. Semoga secepatnya bisa ketemu dan kumpul bareng isbanban di taman baca yah.. :)

      Delete